lalu lintas

Selasa, 20 November 2012

PENDIDIKAN KARAKTER BAGI ANAK USIA DINI



PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang 
Keterpurukan  dan  jatuh  bangunnya  suatu  bangsa tergantung  pada  kualitas  sumber  daya  manusia  yang  dimiliki. Francis  Fukuyama  dalam  bukunya  “Trust”  menyatakan  bahwa kekayaan alam bukanlah segalanya dalam menentukan kemajuan bangsa  tetapi  kualitas  hubungan  antar  manusia  yang  baik, kepercayaan,  tanggung  jawab,  bekerja  keras  adalah  kualitas sumber  daya  manusia  (SDM)  yang  penting.  Para  manajer  di Amerika Serikat seperti dituliskan George Bogs juga menyebutkan bahwa  kualitas  karakter  seperti  kejujuran,  tanggung  jawab, ketekunan,  kerja  keras,  adalah  hal  penting  yang  menentukan keberhasilan  seseorang  saat  masuk  di  dunia  kerja,  sementara kualitas  intelektual  seseorang  hanya menyumbangkan  20  persen keberhasilan  seseorang  di  dunia  kerja  (Daniel  Goleman,  1990).
Menurut  Indeks  Pembangunan  Manusia (Human Development  Index  atau  HDI)  dilaporkan  bahwa 

 peringkat  HDI Indonesia  berada  di  bawah Vietnam  pada  tahun  2003,  2004  dan 2005.  Hal  ini merupakan  suatu  indikator  buruknya  kondisi  sosial ekonomi,  tingkat  pendidikan,  kesehatan  dan  gizi  serta  pelayanan sosial  pada Bangsa  Indonesia,  bila  dibandingkan  dengan  negara lain.  Data  tentang  angka  korupsi,  kolusi  dan  nepotisme  juga memperlihatkan bahwa angka korupsi di Indonesia adalah terburuk ke dua setelah India diantara negara di Asia. Perilaku merusak diri seperti keterlibatan pada narkoba, ketergantungan pada narkoba, minuman keras,  judi dan  tawuran adalah salah satu  indikator  lain kegagalan pembentukan karakter. Setiap  manusia  pada  dasarnya  memiliki  potensi  untuk berkarakter  sesuai  dengan  fitrah  penciptaan  manusia  saat dilahirkan, akan tetapi dalam kehidupannya kemudian memerlukan proses  panjang  pembentukan  karakter  melalui  pengasuhan  dan pendidikan  sejak  usia  dini.  Oleh  karena  itu  pendidikan  karakter. sebagai  usaha  aktif  untuk  membentuk  kebiasaan  baik,  perlu ditanamkan terus sebagai sifat kebaikan anak sejak kecil. Thomas Lickona  menjelaskan  bahwa  karakter  terdiri  atas  3  bagian  yang saling  terkait,  yaitu  pengetahuan  tentang moral  (moral  knowing), perasaan  tentang  moral  (moral  feeling)  dan  perilaku  bermoral (moral  behavior).  Artinya,  manusia  yang  berkarakter  adalah individu yang  mengetahui  tentang  kebaikan  (knowing  the  good), menginginkan  dan  mencintai  kebaikan  (loving  the  good),  dan melakukan kebaikan (acting the good).  Tujuan  pendidikan  nasional  yang  tercantum  dalam  batang tubun  UUD  1945  mengamanatkan  bahwa  pemerintah mengusahakan  dan  menyelenggarakan  satu  sistem  pendidikan nasional  untuk  meningkatkan  keimanan  dak  ketaqwaan  kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa  serta  akhlak  mulia  dalam  rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara sadar bangsa Indonesia membangun  pendidikan  didasari  pada  akhlak  mulia.  Berdasar pada  tujuan  tersebut  maka  pendidikan  dalam  seluruh  jalur  dan jenjang  seharusnya mengembangkan  pembelajaran,  pembiasaan dan keteladanan serta kegiatan dan budaya  lembaga PAUD yang kondusif agar anak menjadi cerdas dan berkarakter mulia. Pendidikan  karakter  bukan  saja  dapat  membuat  seorang anak  mempunyai  akhlak  yang  mulia,  tetapi  juga  dapat meningkatkan  keberhasilan  akademiknya.  Beberapa  hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan erat antara keberhasilan pendidikan karakter, dengan keberhasilan akademik serta perilaku pro-sosial  anak,  sehingga  diperlukan  suasana  lembaga  PAUD yang menyenangkan dan kondusif untuk proses belajar-mengajar yang  efektif.  Selain  itu,  anak-anak  yang  berkarakter  baik  adalah mereka  yang mempunyai  kematangan  emosi  dan  spiritual  tinggi, dapat mengelola stressnya dengan lebih baik, yang akhirnya dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.Pembentukan karakter atau akhlak mulia dalam membangun sebuah masyarakat  yang  tertib,  aman  dan  sejahtera, maka  nilai-nilai  karakter  (akhlak  mulia)  menjadi  fondasi  penting  bagi terbentuknya  sebuah  tatanan  masyarakat  yang  beradab  dan sejahtera.  Kesadaran  akan  pembentukan  karakter  harus  dimulai sejak anak usia dini, maka Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia  Dini  menyusun  Pedoman  Pendidikan  Karakter  Bagi  Anak Usia  Dini  ini  untuk  menjadi  pedoman  bagi  para  tenaga kependidikan,  pendidik,  dan  pengasuh PAUD  dalam mengalirkan pendidikan karakter di Lembaga PAUD.
B. Landasan Hukum
1.  Undang-Undang Nomor 4  tahun 1979  tentang Kesejahteraan Anak.
2.  Undang-Undang Nomor 23  tahun 2002  tentang Perlindungan Anak.
3.  Undang-Undang  Nomor  20  tahun  2003  tentang  Sistem Pendidikan Nasional.
4.  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan     Anak Usia Dini. 

C. Tujuan
1.  Tujuan umum 
Memberikan  pedoman  bagi  tenaga  kependidikan,  pendidik, pengasuh  dan  orang  tua  dalam  menerapkan  pendidikan karakter bagi anak usia dini.
2.  Tujuan khusus 
a.  Meningkatkan  pengetahuan  &  pemahaman  tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh, dan orang tua tentang nilai-nilai karakter.
b.  Meningkatkan  keterampilan  tenaga  kependidikan, pendidik  pengasuh  dan  orang  tua  mengenai  cara menanamkan nilai-nilai karakter.
c.  Meningkatkan  keterampilan  tenaga  kependidikan, pendidik,  pengasuh  dan  orang  tua  mengenai  cara penilaian terhadap nilai-nilai karakter.

D. Sasaran
Sasaran  atau  pengguna  pedoman  penanaman  nilai-nilai
karakter di PAUD meliputi: 
1.  Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD
2.  Pendidik atau Guru anak usia dini
3.  Pengasuh anak usia dini 
4.  Orang tua
E. Pengertian
1.  Karakter adalah  tabiat atau kebiasaan untuk melakukan hal yang baik.
2.  Nilai-nilai  karakter  adalah  sikap  dan  perilaku  yang didasarkan  pada  norma  dan  nilai  yang  berlaku  di masyarakat,  yang  mencakup  aspek  spiritual,  aspek personal/kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan.
3.  Pendidikan  karakter  adalah  upaya  penanaman  nilai-nilai karakter  kepada  anak  didik  yang  meliputi  pengetahuan, kesadaran  atau  kemauan,  dan  tindakan  untuk melaksanakan  nilai-nilai  kebaikan  dan  kebajikan,  kepada Tuhan  YME,  diri  sendiri,  sesame,  lingkungan  maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak.
PENDIDIKAN KARAKTER BAGI ANAK USIA DINI
A.  Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
Nilai-nilai  pendidikan  karakter  yang  dapat  ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek, yaitu: (1) Aspek Spiritual, (2) Aspek Personal/kepribadian, (3) Aspek Sosial, dan (4) Aspek lingkungan. Pendidikan  karakter  merupakan  pendidikan  yang melibatkan  penanaman  pengetahuan,  kecintaan  dan penanaman  perilaku  kebaikan  yang  menjadi  sebuah pola/kebiasaan. Pendidikan karakter  tidak  lepas dari nilai-nilai dasar  yang  dipandang  baik.  Pada  pendidikan  anak  usia  dini nilai-nilai  yang  dipandang  sangat  penting  dikenalkan  dan diinternalisasikan ke dalam perilaku mereka mencakup:
1.  Kecintaan terhadap Tuhan YME
2.  Kejujuran
3.  Disiplin
4.  Toleransi dan cinta damai
5.  Percaya diri
6.  Mandiri
7.  Tolong menolong, kerjasama, dan gotong royong
8.  Hormat dan sopan santun
9.  Tanggung jawab
10. Kerja keras
11. Kepemimpinan dan keadilan
12. Kreatif
13. Rendah hati 
14. Peduli lingkungan 
15. Cinta bangsa dan tanah air

B.  Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
 Ada  tujuh  prinsip  pendidikan  karakter  yang  harus dilaksanakan oleh pendidik dan lembaga PAUD, yaitu :
1.  Melalui contoh dan keteladanan
2.  Dilakukan secara berkelanjutan
3.  Menyeluruh,  terintegrasi  dalam  seluruh  aspek perkembangan 
4.  Menciptakan suasana kasih sayang
5.  Aktif memotivasi anak
6.  Melibatkan  pendidik  dan  tenaga  kependidikan,  orang tua, dan masyarakat.
7.  Adanya penilaian

C.  Kriteria Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD
Untuk  melaksanakan  pendidikan  karakter  ada  beberapa prasyarat  yang  harus  dimiliki  seorang  guru  pendidik  karakter yaitu:
1.  Pendidik  menjadikan  dirinya  sebagai  figur  teladan  yang berakhlak  mulia,  antara         lain  berbuat  baik,  santun, berprasangka baik, dan memiliki semangat. 
2.  Pendidik  mengutamakan  tujuan  pengembangan  karakter anak didiknya dalam penerapan proses pendidikan.
3.  Pendidik  senantiasa  mengadakan  dialog  terbuka  secara bijak  tentang  isu-isu moral dengan anak didiknya,  tentang bagaimana  seharusnya  menjalankan  hidup,  serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.
4.  Pendidik  menumbuhkan  rasa  empati  anak,  yaitu  dengan mengajak anak merasakan apa yang dirasakan orang lain.
5.  Pendidik  mengintegrasikan  nilai-nilai  pendidikan  karakter dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
6.  Pendidik  menciptakan  suasan  lingkungan  yang mendukung.
7.  Pendidik  membangun  serangkaian  aktivitas  penerapan nilai-nilai  karakter  di  rumah,  di  lembaga  PAUD,  dan  di masyarakat sekitarnya.
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK USIA DINI
Penanaman  nilai-nilai  karakter  diberikan  melalui keteladanan,  pembiasaan,  dan  pengulangan  dalam  kehidupan sehari-hari.  Suasana  dan  lingkungan  yang  aman  dan  nyaman, perlu  diciptakan  dalam  proses  penanaman  nilai-nilai  karakter. Penanaman  nilai  karakter  pada  anak  bukan  hanya  sekadar mengharapkan kepatuhan,  tetapi harus disadari dan diyakini oleh anak  sehingga  mereka  merasa  bahwa  nilai  tersebut  memang benar  dan  bermanfaat  untuk  dirinya  dan  lingkungannya.  Dengan demikian  mereka  termotivasi  dari  dalam  diri  untuk  menerapkan dan  terus  memelihara  nilai  tersebut  dalam  kehidupan  sehari-harinya. Penerapan pendidikan karakter bagi anak usia dini dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.
A.  Perencanaan
Perencanaan  pendidikan  karakter  dikembangkan dengan memperhatikan hal-hal berikut.
1.  Mengenal  dan memahami  anak  seutuhnya  sesuai  dengan tahapan  perkembangan  dan  karakteristiknya,  seperti  anak sebagai peneliti ulung, aktif gerak, pantang menyerah, maju tak  pernah  putus  asa,  terbuka,  bersahabat,  dan  tak membedakan.
2.  Nilai-nilai  pendidikan  karakter  diterapkan menyatu  dengan kegiatan  inti  proses  belajar  mengajar  yang  dilakukan dengan cara: 
a.  Memilih  nilai-nilai  karakter  yang  sesuai  dengan  tema dan judul kegiatan pembelajaran.
b.  Menentukan indikator perkembangan nilai-nilai karakter, sesuai dengan tahap perkembangan anak
c.  Menentukan  jenis  dan  tahapan  kegiatan  yang  akan dilaksanakan.
B.  Pelaksanaan 
Pelaksanaan  nilai-nilai  karakter  bagi  anak  usia  dini dilakukan melalui kegiatan yang terprogram dan pembiasaan.
1.  Kegiatan terprogram antara lain:
a.  Menggali  pemahaman  anak  untuk  tiap-tiap  nilai karakter.  Kegiatan  ini  bisa  dilakukan  melalui  bercerita dan dialog yang dipandu oleh guru.  Misalnya untuk  tema  tanaman, guru dapat mengajukan pertanyaan  terbuka  tentang karakter yang bertanggung jawab dalam memelihara tanaman.Contoh  pertanyaan  guru,  “Mengapa  kita  harus bertanggung  jawab  memelihara  tanaman?”  atau ”Bagaimana  cara  kita  bertanggung  jawab  terhadap tanaman?” Setiap  anak  dapat  memberi  jawaban  yang  berbeda. Semua  pendapat  anak  dihargai  karena  itu mencerminkan pemahaman mereka.
b.  Membangun  penghayatan  anak  dengan  melibatkan emosinya untuk menyadari pentingnya menerapkan nilai karakter (bertanggung  jawab). Proses  ini dibangun  juga melalui  pertanyaan  terbuka  atau  melalui  pengamatan terhadap  situasi  dan  kondisi  yang  ada  di  sekitar lembaga  PAUD.  Misalnya  setelah  bercerita  dan berdialog  tentang  karakter  tanggung  awab  terhadap tanaman,  guru  dapat  mengajak  anak  berkeliling lembaga  PAUD  untuk  bereksplorasi  seputar  tanaman dan  mengamati  perbedaan  tanaman  yang  layu  dan segar. Kemudian guru mengajukan pertanyaan, ”Mengapa ada tanaman  yang  layu  dan  segar?”,  atau  ”Bagaimana rasanya bila kita menjadi tanaman yang layu tersebut?”, atau  ”Apa  yang harus  kita  lakukan agar  tanaman  tidak layu?”
c.  Mengajak  anak  untuk  bersama-sama  melakukan  nilai-nilai  karakter  yang  diceritakan.  Misalnya  setelah  anak bereksplorasi  dan  terdorong  melakukan  karakter tanggung jawab terhadap tanaman, maka guru member kesempatan kepada anak untuk melaksanakan karakter tanggung  jawab  terhadap  tanaman  sesuai  keinginan dan kemampuan anak.
d.  Ketercapaian tahapan perkembangan anak didik. Dalam hal  ini  anak  diminta  untuk  menceritakan  kegiatan  dan perasaannya  setelah melakukan  kegiatan. Guru  dapat memberikan penguatan dan pujian serta sentuhan kasih sayang  terhadap apa yang direfleksikan anak, misalnya dengan mengatakan,  “Terimakasih, sudah bertanggung jawab untuk menyiram tanaman.”
2.  Kegiatan pembiasaan dilakukan melalui:
a.  Kegiatan  rutin  lembaga  PAUD,  yaitu  kegiatan  yang dilakukan di  lembaga PAUD secara  terus-menerus dan konsisten  setiap  saat.  Contoh  kegiatan  rutin  lembaga PAUD  seperti  memberi  salam  saat  berjumpa  untuk menanamkan  nilai  karakter  hormat  dan  sopan  santun, bergantian menjadi ketua kelompok untuk menanamkan nilai  karakter  kepemimpian  dan  keadilan.  Contoh kegiatan  lain  adalah  pemeriksaan  kebersihan  badan, kuku,  telinga  rambut  dan  lain-lain  untuk  menanamkannilai  tanggung  jawab  (K4  [Kebersihan,  Kesehatan, Kerapian, dan Keamanan]).
b.  Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara langsung  atau  spontan  pada  saat  itu  juga,  biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui adanya perbuatan yang  tidak  baik/buruk  sehingga  perlu  dikoreksi  dan pemberian  apresiasi  (penghargaan,  pujian)  terhadap nilai  karakter  yang  diterapkan  oleh  anak.  Misalnya,mengucapkan  terimakasih,  memungut  sampah  lalu membuang pada tempatnya, memberikan perhatian dan membantu teman.
c.  Keteladanan,  yaitu  kegiatan  yang  dapat  ditiru  dan dijadikan  panutan.  Dalam  hal  ini  guru  menunjukkan perilaku  konsisten  dalam  mewujudkan  nilai  karakter,yang  dapat  diamati  oleh  anak  dalam  kegiatan  sehari-hari baik berada di dalam atau di  luar  lembaga PAUD.Sebagai contoh guru berpakaian rapi, guru datang tepat pada  waktunya,  bertutur  kata  sopan,  bersikap  kasih sayang, dan jujur.
d.  Pengkondisian, yaitu situasi dan kondisi lembaga PAUD sebagai  pendukung  kegiatan  pendidikan  karakter. Misalnya  dengan  pemeliharaan  toilet  yang  bersih,
penyediaan  bak  sampah,  dan  kerapian  alat  permainan edukatif,  untuk  menanamkan  nilai  karakter  seperti tanggung  jawab  (K4  [Kebersihan, Kesehatan, Kerapian dan Keamanan). 
e.  Budaya  lembaga PAUD, mencakup suasana kehidupan di lembaga PAUD yang mencerminkan komunikasi yang efektif  dan  produktif  yang  mengarah  pada  perbuatan baik  dan  interaksi  sesamanya  dengan  sopan  dan santun,  kebersamaan,  dan  penuh  semangat  dalam melakukan kegiatan pembelajaran aktif,  inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.Selain dengan dua cara penerapan pendidikan karakter di  atas  juga  terdapat  cara  lain  yang  dapat  dilakukan  guru dengan  melibatkan  orang  tua  melalui  kegiatan  parenting, seperti dengan menyampaikan kepada orang  tua  tentang nilai-nilai  karakter  yang  sedang  ditanamkan  di  lembaga  PAUD kepada  peserta  didik,  agar  nilai-nilai  tersebut  juga  dapat diterapkan dan dibiasakan di lingkungan keluarga. Penerapan  pendidikan  karakter  memperhatikan  juga adanya beberapa elemen pendukung antara lain berupa :
1.  Buku acuan pendukung seperti buku-buku cerita bermuatan karakter,  buku  biografi  berisi  nilai  karakter,  dan  lain-lain yang  merupakan  media  belajar  bagi  penanaman pengetahuan dan perasaan tentang kebaikan.
2.  Media bercerita berupa boneka tangan, micro-play, dan alat permainan edukatif yang bisa dijadikan media pembentukan nilai karakter.
3.  Media  belajar  berupa  media  belajar  yang  tersedia  di lingkungan  lembaga  PAUD  dan  dapat  mendukung pendidikan karakter.

C.  Penilaian
Tahap  penilaian mencakup  tujuan  penilaian,  prinsip  penilaian, lingkup  penilaian,  cara  penilaian,  instrumen  penilaian,  dan pengembangan indikator diuraikan tersendiri dalam pembahasan berikutnya.
PENILAIAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK USIA DINI
A.  Tujuan Penilaian
Tujuan  penilaian  adalah  untuk  mengetahui  sejauh  mana perubahan  sikap  dan  perilaku  anak-anak  setelah  mengikuti kegiatan  di  lembaga  PAUD  yang  sarat  dengan  nilai-nilai karakter. Kegiatan  penilaian  dapat  dilakukan  oleh  pendidik  atau
pengasuh  lembaga  PAUD  secara  berkesinambungan  dan terus menerus agar perubahan sikap dan perilaku anak dapat dilihat secara utuh.
B.  Prinsip Penilaian
Dalam  melakukan  penilaian  keberhasilan  pendidikan karakter  maka  terdapat  beberapa  prinsip  yang  harus diperhatikan guru yaitu :
1.  Menyeluruh, artinya penilaian hendaknya mencakup aspek proses  dan  hasil  penanaman  nilai-nilai  karakter  yang secara  bertahap  menggambarkan  perubahan  sikap  dan perilaku anak.
2.  Berkesinambungan,  artinya  penilaian  dilakukan  secara berencana,  bertahap  dan  terus  menerus  untuk memperoleh  gambaran  menyeluruh  terhadap  hasil penanaman nilai-nilai karakter.
3.  Obyektif,  sesuai  dengan  apa  yang  dialami  atau  terjadi pada  diri  anak  dengan  memperhatikan  perbedaan keunikan masing-masing individu.
4.  Mendidik, artinya hasil penilaian digunakan untuk membina dan  mendorong  anak-anak  dalam  meningkatkan kemampuan  atau  mengembangkan  sikap  dan  perilakusesuai dengan nilai-nilai karakter. 
5.  Kebermaknaan, artinya hasil penilaian bermakna baik bagi pendidik, pengasuh, orang tua, anak didik dan pihak lain.
C.  Lingkup Penilaian 
Pendidikan  karakter  yang  efektif  harus merupakan  suatu usaha  untuk  menilai  hasil  kemajuan  program  baik  melalui metode  kualitatif  ataupun  kuantitatif.  Tiga  jenis  hasil  secara umum  yang  diperhatikan  adalah  karakter  lembaga  PAUD,
perkembangan staf lembaga PAUD sebagai pendidik karakter, dan karakter anak atau peserta didik, yaitu :
1.  Karakter  lembaga  PAUD:  Sampai  sejauh mana  lembaga PAUD  menjadi  sebuah  komunitas  yang  mempedulikan sesame, Hal  ini  dapat  dinilai,  sebagai  contoh,  melalui survey  yang  meminta  anak  didik  untuk  mengindikasikan sampai  sejauh  mana  mereka  menyetujui  pernyataan-pernyataan  seperti,  ”murid  di  lembaga  PAUD  ini  saling menghormati  dan  peduli  terhadap  satu  sama  lain”,  dan ”warga kelas ini sudah seperti keluarga”.
2.  Perkembangan  staf  lembaga  PAUD  sebagai  pendidik karakter:  Sampai  sejauh  mana  staf  mengembangkan pemahaman  mengenai  apa  yang  dapat  mereka  lakukan untuk  membina  pengembangan  karakter?  Bagaimana komitmen  personal  mereka  dalam  melakukan pengembangan karakter? Keahlian-keahlian apa saja yang mereka  miliki?  Apa  saja  kebiasaan-kebiasaan  mereka yang konsisten dengan kapasitas mereka sebagai pendidik karakter?.
3.  Karakter  anak  didik:  Sampai  sejauh  mana  peserta  didik memunculkan  pemahaman,  penghayatan,  dan  tindakan yang berpatokan pada nilai-nilai karakter? Lembaga PAUD dapat, sebagai contoh, mengumpulkan data pada perilaku yang  berhubungan  dengan  karakter  yang  beragam. Lembaga  PAUD  juga  dapat  menilai  empat  aspek  utama dari  karakter  yaitu  spiritual,  personal/kepribadian,  sosial,dan lingkungan sesuai dengan tahap perkembangan anak. 
D.  Teknik dan Instrumen Penilaian
Penilaian  penanaman  nilai-nilai  karakter  di  lembaga  PAUD dapat dilakukan melalui kegiatan:
1)      Pengamatan,  yaitu  suatu  cara  untuk  mengetahui perkembangan  atau  perubahan  sikap  dan  perilaku  anak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya selama berada di lembaga  PAUD  dengan  cara  melihat  secara  langsung. Untuk  mempermudah melakukan  pengamatan,  pendidik atau  pengasuh  dapat  menggunakan  instrumen pengamatan  dalam  bentuk  check  list  (√).
2)    Penugasan, penugasan merupakan cara penilaian berupa pemberian tugas yang harus dikerjakan anak dalam waktu tertentu  baik  secara  perorangan  maupun  kelompok.Misalnya  melakukan  percobaan  menanam  biji.  Dalam memberikan  penilaian     terhadap  nilai-nilai  karakter  yang terkandung  dalam  hasil  tugas  anak,  pendidik  atau pengasuh dapat menggunakan instrumen berbentuk check list  (√),  dengan  catatan pendidik  atau  pengasuh  terlebih  dahulu  melakukan pengembangan indikator keberhasilan sesuai nilai karakter yang akan dinilai dari hasil tugas anak didik.
3)    Unjuk  kerja, merupakan penilaian  yang dilakukan dengan mengamati  kegiatan  anak  melakukan  sesuatu  dalam menerapkan  nilai-nilai  karakter,  misalnya  praktik  berdoa,olah  raga, bermain peran, memperagakan seni. Penilaian unjuk  kerja,perlu mempertimbangkan  aspek  –aspek  yang diamati agar dapat dinilai. Untuk menilai unjuk kerja anak didik,  pendidik  atau  pengasuh  dapat  menggunakan instrumen  check  list  (√). dengan  catatan  pendidik  atau  pengasuh  terlebih  dahulu melakukan  pengembangan  indikator  keberhasilan  sesuai nilai karakter yang akan dinilai dari unjuk kerja anak didik.
4)    Pencatatan  anekdot  (anecdotal  record),  yaitu menggambarkan  peristiwa-peristiwa  penting  atau  unik yang  terjadi sehari-hari.  Instrumen anecdotal  record dapat
5)    Percakapan  atau  dialog,  yaitu menanyakan  kepada  anak secara  langsung  tentang kegiatan yang dilakukan selama berada di  lembaga PAUD. Pendidik atau pengasuh dapat mewancarai  anak-anak  ketika  beraktivitas.  Untuk membantu  dalam  melakukan  wawancara,  pendidik  atau pengasuh  dapat  membuat  pedoman  wawancara  terlebih dahulu  atau  melontarkan  pertanyaan  secara  spontan. Simpulan  hasil  wawancara  digunakan  pendidik  atau pengasuh  untuk  memberikan  nilai  pada  anak  didik, menggunakan  instrument. dengan pengembangan pada indikator keberhasilan.
6)   Laporan  orang  tua,  merupakan  hasil  pengamatan  orang tua terhadap kegiatan anak selama berada di luar lembaga PAUD,  disampaikan  oleh  orang  tua  secara  lisan  atau tulisan  kepada  pendidik.  Catatan  hasil  laporan  orang  tua dibuat oleh pendidik atau pengasuh dengan menggunakan
7)   Dokumentasi  hasil  karya  anak  (portofolio),  merupakan penilaian  berkelanjutan  yang  didasarkan  pada  kumpulan informasi  dan  hasil  percobaan/proses  dalam  bentuk diskripsi baik berupa gambar atau  tulisan sederhana yang dibuat  anak.  Kumpulan  hasil  selama  satu  periode dianalisis/dikaji  untuk  mengetahui  tingkat  perkembangan kemampuan anak berdasarkan  kompetensi/indikator  yang telah ditetapkan. 
8)   Deskripsi profil anak, merupakan simpulan portofolio yang dibuat  oleh  pendidik menggambarkan  nilai  karakter  yang sudah  dimiliki  anak  dan  masih  perlu  peningkatan.  Untuk membuat  deskripsi  profil  anak  pendidik  atau  pengasuh
E.  Pengembangan Indikator
Untuk  mempermudah  penilaian,  nilai-nilai  yang  ditanamkan dapat dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator yang terukur. Indikator  dapat  dikembangkan  oleh  pendidik  atau  pengasuh dan  pengelola  lembaga  PAUD  dengan  mempertimbangkan tema  pembelajaran,  budaya  lokal,  dan  potensi  lokal. Pengembangan  indikator  dapat  mengacu  pada  indikator keberhasilan pada lampiran 1.
kesimpulan
Terdapat 15 nilai karakter yang akan diterapkan pada anak usia dini, yaitu kecintaan  terhadap Tuhan YME;kejujuran; disiplin; toleransi dan cinta damai; percaya diri; mandiri;  tolong menolong, kerjasama,  dan  gotong  royong;  hormat  dan  sopan  santun; tanggung  jawab; kerja keras; kepemimpinan dan keadilan; kreatif; rendah hati; peduli lingkungan; cinta bangsa dan tanah air.  Pada  dasarnya menanamkan  nilai-nilai karakter  sejak  usia dini  merupakan  tanggung  jawab  bersama,  antara  orang  tua,
pendidik,  pengasuh,  masyarakat,  dan  pemerintah.Untuk  itu kebersamaan,  keselarasan,  dan  kemitraan  dalam  menanamkan nilai-nilai karakter sejak usia dini harus digalang dan dioptimalkan bersama.  Bagi  orangtua  diharapkan  kerjasama  dilakukan melalui sosialisasi nilai karakter kepada orangtua agar nilai karakter yang sudah  dibiasakan  di  lembaga  PAUD  juga  dapat  dilakukan  di rumah.  Bagi  masyarakat  dan  pemerintah  diharapkan  dukungan juga  dapat  diperoleh  dengan membentuk  suasana  yang  kondusif bagi terbentuknya karakter bagi anak usia dini. Bagi pendidik, pengasuh dan pengelola diharapkan  prinsip pendidikan karakter, kriteria guru dan kriteria lembaga PAUD dapat diperhatikan agar pendidikan karakter dapat berhasil secara efektif dan efisien dalam membentuk karakter anak sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA

A, Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo.
Buwono, X., Hamengku S. 2007. Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. Jakarta: Gramedia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence. Bantam Book, New York.Jeferson City. Retrieved 18 March 2010 from www.dese.state.mo.us.
Guhardja,  S.,  Puspitawati  H.,  Hartoyo,  Hastuti  D.  1992. Manajemen  Sumberdaya  Keluarga.  Diktat  Jurusan  Gizi Masyarakat  dan  Sumberdaya  Keluarga,  Fakultas  Pertanian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Lickona, T. 1992. Educating  for Character; How Our Schools Can Teach  Respeect  and  Responsibility.  Bantam  Books.  New York. USA.
Lichona, T., & W. J. Boudreau. 1994. Making  the Right Decision: Sex, Love, and You. Ave Maria Press, Indiana.
Linda, Eyre, Ricard. Teaching Your Children Value. Missouri Department of Elementary and Secondary Education.
Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.
Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter, Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia. 1993. Pengembangan Asta Citra Anak Indonesia
Sulhan, Najib. 2006. Pembangunan Karakter pada Anak: Manajemen Pembelajaran Guru Menuju Lembaga PAUD Efektif. Surabaya: Intelektual Club.
Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia Etnisitas & Identitas: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan Bangsa Indonesia, Jakarta: PT Pineka Cipta. 
Megawangi, R. 9 Pilar Karakter,  Indonesia Heritage Foundation
Permendiknas RI No. 58 Tahun 2009, tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.



Lampiran 1
INDIKATOR NILAI-NILAI KARAKTER ANAK USIA DINI

no
Nilai pengertian
indikator
1.

Kecintaan terhadap Tuhan YME, Nilai yang didasarkan pada perilaku yang menunjukkan kepatuhan kepada perintah dan larangan Tuhan YME yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

1.  Senang menyanyikan  beberapa lagu bernuansa imtaq dan mengekspresikan dengan gerak
2.  Terbiasa berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan
3.  Senang melakukan ibadah sehari-hari
4.Senang menyimak dan
 menceritakan kembali cerita
bernuansa imtaq
5.  Ingin mengetahui dan memahami sifat-sifat Tuhan melalui nama-nama Tuhan
6.  Memperlihatkan kasih sayang kepada ciptaan Tuhan dengan lebih
beragam
7.  Senang mengucapkan
syair/pantun bernuansa imtaq.
8.  Terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan bernuansa imtaq 
9.  Terbiasa mengucapkan kata-kata santun (terima kasih, maaf, tolong)
10. Terbiasa mengucapkan
salam 
2.

Kejujuran  Keadaan yang terkait
dengan ketulusan dan
kelurusan hati untuk
berbuat benar

1.  Anak mengerti mana milik pribadi dan milik bersama
2.  Anak merawat dan menjaga
benda milik bersama
3.   Anak terbiasa berkata jujur 
4.  Anak terbiasa mengembalikan benda yang bukan miliknya
5.  Menghargai milik orang lain
6.  Mau mengakui kesalahan 
7.  Mau meminta maaf bila salah, dan memaafkan teman yang berbuat salah
8.  Menghargai keunggulan orang lain.
9.  tidak menumpuk mainan atau makanan untuk diri sendiri

3.
Disiplin  Nilai yang berkaitan
dengan ketertiban dan
keteraturan

1. Selalu datang tepat waktu
2. Dapat memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesuatu
3. Menggunakan benda sesuai dengan fungsinya
4. Mengambil dan mengembalikan benda pada tempatnya
5. Berusaha mentaati aturan yang telah disepakati
6. Tertib menunggu giliran
7. Menyadari akibat bila tidak
disiplin
4.
Toleransi dan cinta damai  Penanaman kebiasaan bersabar, tenggang rasa,

1.  Senang bekerja sama dengan teman.dan menahan emosi dan keinginan
2.  Mau berbagi makanan atau
mainan dengan teman.
3.  Selalu menyapa bila bertemu
4.  Menunjukkan rasa empati.
5.  Senang berteman dengan siapa saja
6.  Menghargai pendapat teman dan tidak memaksakan kehendak sendiri
7.  Mau menengahi teman yang sedang berselisih
8.  Tidak suka membuat keributan atau mengganggu teman
9.  Tidak suka menang sendiri
10. Senang berdiskusi dengan teman
11. Senang menolong teman dan orang dewasa
5.
Percaya diri  Sikap yang menunjukkan
memahami kemampuan diri dan nilai harga diri.

1. Berani menyatakan pendapatnya
2. Berani bertanya dan menjawab pertanyaan
3. Bangga dengan dirinya
4. Berani melakukan sesuatu tanpa bantuan
5. Berani mencoba hal yang baru
6. Mau melakukan tantangan dan tidak mudah menyerah
7. Berani mempertahankan apa yang dipahami
8.  Ingin tampil menjadi juara
9. Bangga terhadap hasil karya sendiri.
6.

Mandiri  Perilaku yang tidak bergantung pada orang lain. Penanaman nilai ini bertujuan anak terbiasa untuk menen-tukan, melakukan, memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan atau dengan bantuan yang seperlunya

1.  Dapat menentukan keinginannya sendiri
2.  Dapat memilih mainannya sendiri
3.  Senang melakukan sesuatu tanpa dibantu
4.  Mengetahui batas kemampuan sendiri
5.  Dapat mengambil keputusan sendiri atau dengan sedikit arahan
6.  Menghargai bantuan orang lain
7.  Tidak mudah mengeluh dan
cengeng
8.  Tidak penakut
7.
Kreatif  Kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada untuk memecahkan masalah maupun menciptakan hal baru.

1.  Memiliki banyak ide/gagasan 
2.  Senang mengajukan solusi untuk suatu masalah
3.  Memiliki cara yang berbedadalam memanfaatkan alat dan bahan bermain
4.  Senang membuat sesuatu dari bahan yang ada di sekitarnya
5.  Tidak mengalami kesulitan bila dihadapkan pada masalah
6.  Mengajukan dan membuat kreasi baru dari benda lama
7.  Senang dengan hal-hal yang menantang
8.  Sering memiliki jawaban yang berbeda dari teman  lainnya.
8.
Tolong menolong, kerjasama dan gotong royong  Salah  satu  bentuk kemampuan  sosialisasi dan  kematangan  emosi adalah  kemampuan bekerjasama. Penanaman  nilai  ini dalam  keseharian dilakukan  melalui pembiasaan.

1.  Senang  bekerja bersama dengan teman
2.  Senang  menolong, dan membantu teman 
3.  Suka menenangkan teman yang merasa sedih atau takut
4.  Senang memberi dukungan pada teman-teman yang sedang bekerja
5.  Dapat menunjukkan rasa empati pada orang lain
6.  Dapat melakukan kebiasaan dalam menolong orang lain
9.
Hormat dan sopan santun,  Sopan santun adalah nilai yang terkait dengan tata krama penghormatan pada orang lain, yang sesuai dengan norma budaya. 

1.  Dapat melakukan kebiasaan yang baik, 
2.  Dapat mende-ngarkan orang lain bicara
3.  Dapat bersabar menunggu giliran bicara
4.  Dapat menghargai bantuan orang lain
5.  Dapat melakukan kebiasaan
salam saat masuk rumah dan atau tempat lain
6.  Dapat melakukan kebiasaan mengucapkan salam saat bertemu atau berpisah
7.  Tidak mengejek orang lain
10.
Tanggung jawab  Tanggung jawab adalah
nilai yang terkait dengan kesadaran untuk
melakukan dan menanggung segala

1.  Merapikan peralatan/ mainan yang telah digunakan 
2.  Mengakui dan meminta maaf bila melakukan  sesuatunya (Kamus
Besar Bahasa Indonesia 1991) kesalahan 
3.  Menjaga barang miliknya sendiri 
4.  Menjaga barang milik orang lain dan umum (misalnya: APE di sekolah, dll)
5.  Turut merawat mainan sekolah
6.  Senang menjalankan tugas yang diberikan orangtua atau guru
11.
Kerja keras  Nilai yang berkaitan dengan perilaku pantang menyerah, yaitu mengerjakan sesuatu hingga selesai dengan gembira

1.  Anak berusaha menyelesaikan tugasnya hingga tuntas
2.  Anak berusaha fokus pada permainan yang dihadapinya
3.  Anak senang bila berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik
4.  Anak berusaha mengatasi kesulitan yang dihadapinya tanpa atau dengan sedikit pertolongan
12.
Kepemimpinan dan keadilan, Nilai yang terkait dengan sikap dan perilaku yang
menunjuk pada prinsip kepemimpinan, seperti bertanggungjawab,
membimbing,berkorban,melindungi, mengkomunikasikasikan, mengatur,
menguasai,mengarahkan atau mengajak orang lain Mampu memimpin teman
sebaya terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan bersama, untuk melakukan suatu kebajikan dan keadilan

Melakukan dengan teman sebaya bersama-sama.
13.
Rendah hati   Mencerminkan kebesaran
jiwa seseorang dan sikap tidak sombong dan bersedia untuk mengalami kehebatan
orang lain. Dengan adanya sikap rendah hati, kita bisa mengikis rasa ego kita, dan mau belajar dari orang lain

1.  Dapat berbagi mainan
dengan temannya
2.  Terbiasa berbicara dengan
sikap santun
3.  Tidak suka memamerkan
mainan atau milik sendiri
4.  Menghargai orang lain
5.  Mencegah temannya yang
mencela atau mengolok-
olok teman lainnya
6.  Senang berteman dengan
semua orang
7.  Dapat berkomunikasi
santun dengan
menggunakan kata-kata
yang tepat dan intonasi
serta ekspresi yang sesuai
14.
Peduli lingkungan  Nilai yang didasarkan
pada sikap dan perilaku yang penuh perhatian dan rasa sayang terhadap
keadaan yang ada dilingkungan  sekitarnya Memperhatikan, mengamati dan mencintai lingkungan

1. Dapat membuang sampah sendiri
2. Dapat menyiram tanaman
3. Dapat membantu merawat tanaman
4. Dapat merawat  hewan peliharaan
15.
Cinta bangsa dan tanah air Nilai yang terkait dengan perasaan bangga dan
cinta pada  bangsa atau tanah air. 


1.  Menyanyikan  lagu wajib
Indonesia Raya dan beberapa
lagu bernuansa kebangsaan
2.  Berdoa dan mengheningkan
cipta untuk para pahlawan
bangsa dan kesejahteraan
bangsa dan negara
3.  Dapat melakukan gerakan 
 upacara bendera dengan
tertib dan benar
4.  Menyimak dan
menceritakan kembali cerita
kemerdekaan dan
mempertahankan
kemerdekaan RI
5.  Mengetahui dan memahami
simbol-simbol negara (garuda,
bendera, presiden, dll)
6.  Memperlihatkan rasa
sayang dan cinta kepada
tanah air
7.  Meniru dan mengerti (tahu
arti) kalimat untuk bangsa dan
tanah air
8.  Mengucapkan salam
nasional
9.  Dapat mengenal kata-kata
kebangsaan (bineka tunggal
ika, sabang-marauke,
Pancasila, dll)
10. Menghargai teman dan
dapat menerima perbedaan
etnis/suku






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar